"BAGAIMANA CARA MENILAI KETERAMPILAN BERFIKIR TIGKAT TINGGI (Higher Order Thinking Skill) DALAM PEMBELAJARAN KIMIA"

A.    Definisi Keterampilan Berfikir
            Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan.        Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.
            Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (higher order thinking)berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking).
             Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory.
            Berpikir kompleks Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik.
             Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik. adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian.
            Kemampuan berpikir merupakan proses keterampilan yang bisa dilatihkan, Artinya dengan menciptakan suasana pembelajaran yang kondunsif  akan merangsang siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir. Oleh karena itu maka guru diharapkan untuk mencari metode dan strategi pembelajaran yang dampaknya dapat menigkatkan kemampuan berpikir siswa.
            HOTS Higher Order Thinking Skill” atau keterampilan berpikir tingkat tinggi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu pemecahan masalah, membuat keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif (Presseisen dalam Costa, 1985). 
            Dalam pembentukan sistem konseptual IPA  proses berpikir tingkat tinggi yang biasa  digunakan adalah berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan pada zaman perkembangan IPTEK sekarang ini, sebab saat ini selain hasil-hasil IPTEK yang dapat dinikmati, ternyata timbul beberapa dampak yang membuat masalah bagi manusia dan lingkungannya. Para peneliti pendidikan menjelaskan bahwa belajar  berpikir kritis tidak langsung seperti belajar tentang materi, tetapi belajar bagaimana cara mengkaitkan berpikir kritis secara efektif dalam dirinya (Beyer dalam Costa,1985). Maksudnya masing-masing keterampilan berpikir kritis dalam penggunaanya untuk memecahkan masalah  saling berkaitan satu sama lain.
            Berpikir Tingkat Tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan  atau menemukan jawaban yang mungkin dalam situasi membingungkan.
            Membahas tentang “Berpikir Tingkat Tinggi”, mengingatkan kita kepada Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking. Ketiga aspek itu adalahaspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower-order thinking. Membahas tentang berpikir tingkat tinggi, kita bahas dulu tentang Ketrampilan berfikir.

Indikator keterampilan berpikir kritis dibagi menjadi lima kelompok (Ennis dalam Costa, 1985) yaitu ; 
1.             memberikan penjelasan sederhana, 
2.             membangun keterampilan dasar, 
3.             menyimpulkan, 
4.             membuat penjelasan lebih lanjut serta mengatur strategi dan taktik.  
Keterampilan pada kelima kelompok berpikir kritis ini dirinci lagi sebagai berikut:  
1.             Memberikan penjelasan sederhana terdiri dari keterampilan memfokuskan
            pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan.  
2.             Membangun keteranpilan dasar terdiri dari menyesuaikan dengan sumber,
          mengamati dan melaporkan hasil observasi.  
3.             Menyimpulkan terdiri dari keterampilan mempertimbangkan kesimpulan,
           melakukan generalisasi dan melakukan evaluasi.  
4.             Membuat penjelasan  lanjut contohnya mengartikan istilah dan membuat    
          definisi.  
5.             Mengatur strategi dan taktik contohnya menentukan suatu tindakan dan
          berinteraksi dengan orang lain dan berkomunikasi.
Keterampilan berpikir siswa dapat dilatihkan melalui kegiatan dimana siswa diberikan suatu masalah dalam hal ini masalah berbentuk soal tes yang bervariasi.  
Ada berbagai  konsep dan contoh keterampilan  berpikir yang dikembangkan oleh para akhli pendidikan.

B.     Bagaimana melatih siswa  memiliki ketrampilan berfikir tingkat tinggi (HOTS)
            Di Indonesia, proses pembelajaran yang melatih siswa berpikir tingkat tinggi memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu (teacher center) belum student center; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Siswa hanya dianggap sebagai sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi dunia pendidikan di Indonesia.
            Diperlukan Higher Order Questions (rich questions), pertanyaan yang meminta siswa untuk menyimpulkan, hypothesise, menganalisis, menerapkan, mensintesis, mengevaluasi, membandingkan, kontras atau membayangkan,  menunjukkan jawaban tingkat tinggi.
            Untuk menjawab Higher Order Questions (rich questions) diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang tinggi, berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan menghubungkannya ke dalam situasi baru.
Soal-soal ulangan yang dibuat oleh guru perlu memperhatikan beberapa hal:
1.             Soal hendaknya menggunakan stimulus, stimulus yang baik hendaknya menyajikan informasi yang jelas, padat, mengandung konsep/gagasan inti permasalahan, dan benar secara fakta.
2.             Soal yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari
3.             Soal mengukur keterampilan berpikir kritis
4.             Soal mengukur keterampilan pemecahan masalah
            Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sudah mulai diterapkan di Indonesia sebenarnya cukup kondusif bagi pengembangan pembelajaran keterampilan berpikir, karena mensyaratkan siswa sebagai pusat belajar. Namun demikian, bentuk penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa masih cenderung mengikuti pola lama, yaitu model soal-soal pilihan ganda yang lebih banyak memerlukan kemampuan siswa untuk menghafal. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penbelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:
·                     keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa
·                     keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang       
             studi
·                     Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini,
            sehingga perlu adanya latihan terbimbing
·                     Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat
           kepada siswa (student-centered).
            Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam melatih keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam pelajaran lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.
            Hasil penelitian Computer Tchnology Research (CTR) menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat mengingat apa yang dilihatnya sebesar 20%, 30% dari yang didengarnya, 50% dari yang didengar dan dilihatnya, dan 80% dari yang didengar, dilihat dan dikerjakannya secara simultan. Selain itu Levie dan Levie dalam Azhar Arzad (2009: 9) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Sedangkan stimulus verbal memberikan hasil belajar yang lebih baik apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang berurut-urutan (sekuensial).
            Dalam dunia pendidikan ada 3 model seorang siswa dalam menerima suatu pelajaran;
1. I hear and i forget ( Saya mendengar dan saya akan lupa )
2. I see and i remember ( Saya meihat dan saya akan ingat )
3. I do and i understand ( Saya melakukan dan saya akan mengerti )
            Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum sampai pada tahapsiswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat.
             Pembelajaran yang efektif dari suatu keterampilan memiliki empat komponen, yaitu: identifikasi komponen-komponen prosedural, instruksi dan pemodelan langsung, latihan terbimbing, dan latihan bebas.
            Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir adalah bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak.

 Tahapan tersebut adalah:
1. Identifikasi komponen-komponen prosedural
            Siswa diperkenalkan pada keterampilan dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut. Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang digunakan untuk menuntun pemikiran siswa.
2. Instruksi dan pemodelan langsung
            Selanjutnya, guru memberikan instruksi dan pemodelan secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas.
3. Latihan terbimbing
            Latihan terbimbing seringkali dianggap sebagai instruksi bertingkat seperti sebuah tangga. Tujuan dari latihan terbimbing adalah memberikan bantuan kepada anak agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan.
4. Latihan bebas
            Guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah. Jika ketiga langkah pertama telah diajarkan secara efektif, maka diharapkan siswa akan mampu menyelesaikan tugas atau aktivitas ini 95% – 100%. Latihan mandiri tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat melatih keterampilan yang telah diajarkan.

Ada 3 tipe seorang guru dalam mengajar;
1. Guru biasa, yaitu yang selalu menjelaskan
2. Guru baik, yaitu yang mampu mendemonstrasikan dan
3. Guru hebat, adalah guru yang mampu menginspirasikan, yakni guru yang mampu membawa siswanya untuk berpikir tingkat tinggi.
            Pelajaran yang diajarkan dengan cara mengajak siswa untuk berfikir tingkat tinggi akan lebih cepat dimengerti oleh siswa. Jadi untuk keberhasilan penguasaan suatu materi pelajaran atau yang lain, usahakan dalam proses belajarnya selalu menggunakan cara-cara yang membuat siswa untuk selalu berpikir tingkat tinggi.




C.     Contoh Menyusun Pertanyaan Ketrampilan Tingkat Tinggi


Keterampilan berpikir yang dikembangkan  dan bentuk pertanyaannya menurut Linn dan Gronlund adalah seperti tertera  pada tabel di bawah ini

Tabel Keterampilan Berpikir dan Bentuk Pertanyaannya (Khusus Bidang studi Kimia)

No
Keterampilan Berpikir
Bentuk Pertanyaan
1
Membandingkan
- Apa persamaan dan perbedaan antara Alkohol 
  dan   Eter
-  Bandingkan dua cara berikut tentang Pembuatan Koloid (cara disperse dan cara kondensasi)
2
Hubungan sebab-akibat
-  Apa penyebab utama terjadinya elektrolisis
-  Apa akibatnya jika Posisi logam yang melapisi logam lain posisinya terbalik (Pada proses penyepuhan)
3
Memberi alasan (justifying)
 - Mengapa Alkohol tersier tidak dapat dioksidasi?
    Jelaskan
4
Meringkas
-  Ringkaslah dengan tepat isi Pencemaran  Air, Tanah dan Udara
5
Menyimpulkan
 -  Susunlah beberapa kesimpulan yang berasal  dari data (data uji larutan asam basa dengan kertas lakmus).contoh :
  
Larutan
Kertas lakmus
Merah
Biru
A
Merah
Merah
B
Biru
Biru
C
Merah
Biru
   Buatlah kesimpulan tentang ketiga larutan tersebut!
6
Berpendapat (inferring)
-    Berdasarkan data berikut :
Larutan
I
II
III
IV
V
pH awal
4
5
7
8
10
+ sedikit
asam
3,5
4,9
4
7,98
5
+ sedikit
Basa
6,03
5,01
10
8,01
12
+sedikit
Air
5,05
5
8
7,9
8,5
Dari data diatas yang termasuk larutan penyangga adalah……Jelaskan pendapatmu!
7
Mengelompokkan
  -    Kelompokkan Larutan Berikut Berdasarkan daya hantar listriknya:
       
Sumber mata air
Nyala lampu
Pengamatan lain
1
padam
Ada gelembung gas
2
terang
Byk gelembung
Gas
3
redup
Ada gelembung
Gas
4
padam
Sedikit gelembung gas
5
padam
Tidak ada gelem
Bung gas
8
Menciptakan
 -   Tuliskan beberapa cara sesuai dengan ide Anda    tentang Alat Uji elektrolit !
9
Menerapkan
-    Selesaikan persamaan reaksi redoks berikut :
      MnO4-  +   C2O42- +  OH-        MnO +  CO32- + H2O
.
10
Analisis
-   Berikut ini hasil titrasi 25 ml asam cuka (CH3COOH)
Dengan Natrium Hidroksida (NaOH) 0,1M  menggunakan indicator PP :
Titrasi ke
1
2
3
Vol.CH3COOH(ml)
25
25
25
Vol.NaOH (ml)
19
20
21
Berdasarkan datatersebut konsentrasi CH3COOH
Adalah….
11
Sintesis
-   Tuliskan satu rencana untuk pembuktian Laju reaksi dipengaruhi oleh suhu,luas permukaan dan konsentarsi!
12
Evaluasi
-   Apakah kelebihan dan kelemahan Model atom Bohr!


PERTANYAAN : Menurut anda apa saja aspek-aspek yang perlu di perhatikan guru/pendidik untuk menerapkan HOTS ((Higher Order Thinking Skill) dalam pembelajaran kimia?

Komentar

  1. menurut saya, Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus.Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan.Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik.Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
    Stimulus juga dapat diangkat dari permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu. Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam penulisan soal HOTS.

    BalasHapus
  2. aspek-aspek yang perlu diperhatikan guru/pendidik untuk menerapkan HOTS dalam pembelajaran kimia adalah karakteristik dari HOTS.
    karakteristik dari HOTS sebagai berikut:
    1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan. Ciri-ciri berpikir tingkat tinggi seperti menemukan, menganalisis, menciptakan metode baru, mereflksi, memprediksi, berargumen, mengambil keputusan yang tepat;
    2. Berbasis permasalahan kontekstual;
    3. Menggunakan bentuk soal beragam.

    dan dimensi proses kognitif HOTS.
    DIMENSI PROSES KOGNITIF HOTS
    Menganalisis dalam kimia
    Menggunakan keterampilan yang telah dipelajarinya terhadap suatu informasi yang belum diketahuinya dalam mengelompokkan informasi, menentukan keterhubungan antara satu kelompok/informasi atau menguraikan suatu materi menjadi komponen-komponen yang lebih jelas.
    Mengevaluasi dalam kimia
    Kemampuan menilai suatu benda atau informasi berdasarkan suatu kriteria(menilai suatu ide, kreasi, cara, atau metode).
    Mencipta atau menyusun konsep dalam kimia
    Membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada sehingga hasil tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari komponen yang digunakan untuk membentuknya.

    BalasHapus
  3. Menurut saya aspek-aspek yang perlu diperhatikan untuk menerapkan HOTS
    Pembelajaran kimia harus memiliki karakteristik sbb :
    1. mengukur kemampuan berpikir kritis tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan. Ciri-ciri berpikir tingkat tinggi seperti menemukan, menganalisis, mensiptakan metode baru, merefleksi, memprediksi, berargumen, mengambil keputusan yang tepat
    2. berbasis permasalahan kontekstual, menghubungkan pembelajaran kedalam kehidupan sehari-hari
    3. menggunakan bentuk soal beragam.
    Kriteria-kriteria tersebut lah yg perlu diperhatikan dalam menerapkan HOTS.

    BalasHapus
  4. Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan.Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
    Adapun karakteristik dari HOTS sebagai berikut:
    1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan. Ciri-ciri berpikir tingkat tinggi seperti menemukan, menganalisis, menciptakan metode baru, mereflksi, memprediksi, berargumen, mengambil keputusan yang tepat;
    2. Berbasis permasalahan kontekstual;
    3. Menggunakan bentuk soal beragam.

     Dimensi proses kognitif HOTS
    a. Menganalisis dalam kimia
    Menggunakan keterampilan yang telah dipelajarinya terhadap suatu informasi yang belum diketahuinya dalam mengelompokkan informasi, menentukan keterhubungan antara satu kelompok/informasi atau menguraikan suatu materi menjadi komponen-komponen yang lebih jelas. Misalnya siswa diharapkan dapat menentukan karakteristik asam basa dalam suatu praktikum. Siswa dapat menentukan karakteristik sifat dari senyawa apa saja yang diperlakukan sebagai bahan praktikum berdasarkan hasil percobaan yang didapat dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah diperoleh pada pembelajaran sebelumnya.
    b. Mengevaluasi dalam kimia
    Kemampuan menilai suatu benda atau informasi berdasarkan suatu kriteria (menilai suatu ide, kreasi, cara, atau metode). Misalnya siswa dapat menilai bahwa air jeruk adalah salah satu contoh asam. Hal ini dapat diketahui dari sifat air jeruk yang dapat mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah dan mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru dari hasil percobaab yang telah dilakukan.
    c. Mencipta atau menyusun konsep dalam kimia
    Membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada sehingga hasil tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari komponen yang digunakan untuk membentuknya. Misalnya dalam percobaan asam basa yang menggunakan berbagai indikator yang dikatakan ketersediaan terbatas. Nah siswa dapat membuat indikator alami dari ekstrak tumbuh-tumbuhan sebagai pengganti indikator sintesis yang ketersediaannya terbatas.

    BalasHapus
  5. Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

    BalasHapus
  6. menurut saya hampir sama dengan yang lainnya yaitu pentingnya pembelajaran tidak hanya mengingat dan menghapal, tetapi juga belajar berfikir tinggi dan menalar. siswaa aktif. kemudian perlunya pembelajaran kontekstua. adanya latihan2 memecahkan permasalahan HOTS dan keragaman soal latihan atau ulangan.

    BalasHapus
  7. Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan istilah Higher Order Thingking Skills(HOTS) pada Taksonomi Bloom, merupakan urutan tingkatan berpikir (kognitif) dari tingkat rendah ke tinggi. Guru harus memahami apa itu HOTS dan bagaimana cara mmembelajarkannya. Dasar pengajaran HOTS yaitu pemberian stimulus/ mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. Selain itu beberapa hal yang harus diperhatikan guru adalah guru harus memahami karakteristik HOTS itu sendiri seperti :
    1.Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan. Ciri-ciri berpikir tingkat tinggi seperti menemukan, menganalisis, menciptakan metode baru, mereflksi, memprediksi, berargumen, mengambil keputusan yang tepat.
    2.Berbasis permasalahan kontekstual.
    3.Menggunakan bentuk soal beragam.

    BalasHapus
  8. menurut saya Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik. Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:
    a.Kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar;
    b.Kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
    c.Menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara sebelumnya.

    BalasHapus
  9. prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:

    1. Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa.
    2. Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi.
    Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing.
    Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered).

    BalasHapus
  10. Menurut saya aspek-aspek yang perlu diperhatikan untuk menerapkan HOTS
    Pembelajaran kimia harus memiliki karakteristik sbb :
    1. mengukur kemampuan berpikir kritis tingkat tinggi, meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan. Ciri-ciri berpikir tingkat tinggi seperti menemukan, menganalisis, mensiptakan metode baru, merefleksi, memprediksi, berargumen, mengambil keputusan yang tepat
    2. berbasis permasalahan kontekstual, menghubungkan pembelajaran kedalam kehidupan sehari-hari
    3. menggunakan bentuk soal beragam.
    Kriteria-kriteria tersebut lah yg perlu diperhatikan dalam menerapkan HOTS

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"HASIL UJI COBA RUPRIK PENILAIAN OTENTIK DENGAN MENGGUNAKAN SKALA GUTMEN, THURSTONE, SUMANTIK DIFFERENCE "

“KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM PEMBELAJARAN KIMIA"